Kamis, 03 Februari 2011
^" JATI DIRI "^
Sepanjang hidup, ada cara-cara yang lebih mudah dan lebih sulit untuk memperoleh hasil-hasil yang kita pilih. Tujuan hidup itu tidak ada perbedaan. Konsep-konsep berikut ini merupakan sparepart yang disediakan dalam perjalanan untuk membuat perjalanan lebih lancar. Alat-alat ini bekerja dengan kreatifitas dan insuisi kita dan akan lebih jauh membantu kita berjalan lebih sesuai (sejalan) dengan karakter tujuan hidup kita. Pakailah konsep itu selama dan ketika kita merasakan seakan-akan – ini bukan sebuah program untuk diikuti, cara-cara sederhana yang membantu kita mengatur (menyesuaikan) jalan kita dan meneruskan kita sebuah rangkaian pelajaran yang penuh Tujuan hidup.
Percaya Diri
Percaya diri merupakan sebuah alat yang cepat dan mudah untuk menggunakan kecerdasan intuisi atau kreatif kita. Kita dapat menggunakannya dalam sejumlah cara-cara yang berbeda.
Kejelasan
Berbicaralah dengan kejelasan. Ungkapkan diri kita dengan penuh Tujuan hidup. Kejelasan memelihara kepercayaan diri dan merupakan sumber kemungkinan yang sangat besar.
Proporsional
Kurangi setiap sesuatu sampai pada dasar intisarinya. Selanjutnya kita selalu dapat menguraikannya. Mengetahui intisari sesuatu membantu kita menyatukan sesuatu itu dengan Tujuan hidup kita.
Intuisi Kreatif
Segala sesuatu adalah mungkin melalui pikiran kreatif kita. Kreatifitas dan intuisi “tahu”. Pikiran logis kemudian mulai mamahmi. Menjalani Tujuan hidup kita artinya pertama dikendarai oleh pikiran intitif/kreatif dan kedua memahaminya dalam kebiasaan lurus (mengalir lurus).
Kesederhanaan
Jika kita dapat mengatakan sesuatu secara sederhana barankali kita memahaminya, jika tidak dapat, barangkali kita tidak paham. Katakan apa yang kita maksudkan dan artikan apa yang kita katakan. Tujuan hidup kita adalah bagian yang paling jujur dari diri kita.
Bagi saya, kesedarhanaan mempunyai sebuah kebersihan mengenainya, sebuah kemurnian.
Kerjasama
Apapun Tujuan hidup yang kita pilih untuk diri kita sendiri kita perlu orang lain untuk menjalankannya. Kerjasama yang besar dilahirkan (diciptakan) dari sebuah rasa hormat yang mendasar kepada pandangan-pandangan dan kemampuan-kemampuan orang lain.
Tingkatkan Konsep Diri
Kepribadian kita sebagai wadah dan konsep islamlah yang mengisinya.
Mengapa kita perlu mengenal konsep diri? Lihat kembali ayat QS. At-Taghabun :16. Di sana terbukti bahwa potensi manusia itu terbatas, dan kita harus berislam dalam keterbatasan itu. Kemudian Rasulullah SAW juga telah mengeluarkan sabdanya di atas. Artinya konsep diri akan membantu kita dalam memposisikan dalam kehidupan sosial. Konsep diri juga membantu kita untuk bersifat tawadhu. Tawadhu berarti kemampuan memposisikan diri sewajarnya. Bukan berarti tawadhu itu bahwa kita tidak memilki apa-apa. Konsep diri juga merupakan salah satu langkah untuk menyerap Islam ke dalam diri. Ada 3 langkah dalam menyerap Islam, yaitu :
a.Memiliki konsep diri yang jelas
b.Memahami Islam sebagai pengisi wadah tersebut
c.Melakukan pengadaptasian antara konsep diri dengan konsep Islam.
Menurut Ibnul Qayyim ada 2 pengetahuan terpenting dalam pengenalan diri yaitu : Ma’rifatullah dan Ma’rifatunnafs. Maksudnya, mengetahui Alloh berarti mengetahui tujuan hidup; mengetahui diri sendiri berarti mengantar bagaimana sampai ke tujuan.
STANDARDISASI
Aku diri dan aku sosial adalah variabel, sedangkan standarnya adalah nilai Islam. Ini harus dijadikan standar dan yang membimbing diri kita. Oleh karena itu tingkatan diri yang paling ideal adalah saat pengaptasian antara diri kita dengan nilai itu semakin klop. Itu yang harus kita usahakan.
Aku diri : pemahaman diri yang efeknya memberikan ketenangan karena kita memahami diri kita.
Aku sosial : memberikan rasa penerimaan, apakah kita diterima dalam kehidupan sosial atau tidak.
Aku ideal : bagaimana kita menjadi benar
Kadang ketika kita melakukan sebuah nilai Islam, kita tidak diterima secara sosial. Ini bukan satu kesalahan yang perlu membuat kita minder. Contohnya saat mulai berjilbab, orang–orang sekitar mempersepsikannya sebagai sebuah keterbelakangan. Tetapi setelah banyak wanita berjilbab berprestasi tinggi di suatu instansi, perlahan-lahan persepsi itu hilang. Oleh karena itu selalu ada tarik-menarik antara aku diri dan aku sosial. Jika kita terlalu kuat pada aku sosial, kita dapat menjadi penjilat. Bila kita terlalu kuat pada aku diri, kita akan sulit bekerja sama. Yang membuat kedua-duanya seimbang adalah aku ideal.
Dengan mengetahui konsep diri yang jelas kita akan mengetahui secara terokus apa yang dapat kita kontribusikan. Dengan konsep diri kita akan mengetahui sejauh mana kita mempunyai arah atau tidak.
Selasa, 01 Februari 2011
^"Bahayanya Berprasangka Buruk"^

"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka Menggunjing
INILAH SIFAT-SIFAT KHAWARIJ MUQADDIMAH
Khawarij mempunyai ciri-ciri dan sifat-sifat yg menonjol. Sebaik-baik orang yg meluruskan sifat-sifat ini ialah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan sifat-sifat kaum ini dalam hadits-hadits yg mulia.
Disini akan dipaparkan penjelasan sifat-sifat tersebut dgn sedikit keterangan, hal itu mengingat terdpt beberapa perkara penting, antara lain :
Dengan mengetahui sifat-sifat ini akan terbukalah bagi kita ciri-ciri ghuluw (berlebih-lebihan) dan pelampauan batas mereka, dan tampaklah di mata kita sebab-sebab serta alasan-alasan pendorong yg menimbulkan hal itu. Dalam hal yg demikian itu akan menampakkan faedah yg tak terkira.
Keberadaan mereka akan tetap ada hingga di akhir zaman, seperti dikabarkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam satu riwayat. Oleh krn mengetahui sifat-sifat mereka ialah mrpk suatu perkara yg penting.
Dengan mengetahui sifat mereka dan mengenali keadaan akan menjaga diri dari terjatuh ke dalamnya. Mengingat barangsiapa yg tdk mengetahui keburukan mereka, akan terperangkap di dalamnya. Dengan mengetahui sifat mereka, akan menjadikan kita waspada terhadap orang-orang yg mempunyai sifat-sifat tersebut, sehingga kita dpt mengobati orang yg tertimpa dgnnya.
Berkenan dgn hal ini akan kami paparkan sifat-sifat tersebut berdasarkan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yg mulia.
[1]. SUKA MENCELA DAN MENGANGGAP SESAT
Sifat yg paling nampak dari Khawarij ialah suka mencela terhadap para Aimatul Huda (para Imam), menganggap mereka sesat, dan menghukum atas mereka sebagai orang-orang yg sudah keluar dari keadilan dan kebenaran. Sifat ini jelas tercermin dalam pendirian Dzul Khuwaishirah terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dgn perkataa : “Wahai Rasulullah berlaku adillah”. [Hadits Riwayat Bukhari VI/617, No. 3610, VIII/97, No. 4351, Muslim II/743-744 No. 1064, Ahmad III/4, 5, 33, 224].
Dzul Khuwaishirah telah menganggap diri lebih wara’ daripada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menghukumi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai orang yg curang dan tdk adil dalam pembagian. Sifat yg demikian ini selalu menyertai sepanjang sejarah. Hal itu mempunyai efek yg sangat buruk dalam hukum dan amal sebagai konsekwensinya. Berkata Ibnu Taimiyah tentang Khawarij :”Inti kesesatan mereka ialah keyakinan mereka berkenan dgn Aimmatul Huda (para imam yg mendpt petunjuk) dan jama’ah muslimin, yaitu bahwa Aimmatul Huda dan jama’ah muslimin semua sesat. Pendpt ini kemudian di ambil oleh orang-orang yg keluar dari sunnah, seperti Rafidhah dan yg lainnya. Mereka mengkatagorikan apa yg mereka pandang kedzaliman ke dalam kekufuran”. [Al-Fatawa : XXVIII/497].
[2]. BERPRASANGKA BURUK [SU’UDZAN].
Ini ialah sifat Khawarij lain yg tampak dalam hukum syaikh mereka Dzul Khuwaishirah si pandir dgn tuduhan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tdk ikhlas dgn berkata :
“Arti : Demi Allah, sesungguh ini ialah suatu pembagian yg tdk adil dan tdk dikehendaki di dalam wajah Allah”. [Hadits Riwayat Muslim II/739, No. 1062, Ahmad IV/321].
Dzul Khuwaishirah ketika melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membagi harta kpd orang-orang kaya, bukan kpd orang-orang miskin, ia tdk menerima dgn prasangka yg baik atas pembagian tersebut.
Ini ialah sesuatu yg mengherankan. Kalaulah tdk ada alasan selain pelaku pembagian itu ialah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam cukuplah hal itu mendorong untuk berbaik sangka. Akan tetapi Dzul Kuwaishirah enggan untuk itu, dan berburuk sangka disebabkan jiwa yg sakit. Lalu ia berusaha menutupi alasan ini dgn keadilan. Yang demikian ini mengundang tertawa iblis dan terjebak dalam perangkapnya.
Sehrs seseorang itu introspeksi, meneliti secara cermat dorongan tindak tanduk dan maksud tujuan serta waspada terhadap hawa nafsunya. Hendaklah berjaga-jaga terhadap manuver-manuver iblis, krn dia banyak menghias-hiasi peruntukan buruk dgn bungkus indah dan rapi, dan membaguskan tingkah laku yg keji dgn nama dasar-dasar kebenaran yg mengundang seseorang untuk menentukan sikap menjaga diri dan menyelamatkan diri dari tipu daya setan dan perangkap-perangkapnya.
Jika Dzul Khuwaishirah mempunyai sedikit saja ilmu atau sekelumit pemahaman, tentu tdk akan terjatuh dalam kubangan ini.
Berikut kami paparkan penjelasan dari para ulama mengenai keagungan pembagian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan hikmah yg tinggi dalam menyelesaikan perkara.
Berkata Syaikh Islam Ibnu Taimiyah :” Pada tahun peperangan Hunain, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membagi ghanimah (rampasan perang) Hunain pada orang-orang yg hati lemah (muallafah qulubuhum) dari penduduk Najd dan bekas tawanan Quraisy seperti ‘Uyainah bin Hafsh, dan beliau tdk memberi kpd para Muhajirin dan Anshar sedikitpun.
Maksud Beliau memberikan kpd mereka ialah untuk mengikat hati mereka dgn Islam, krn keterkaitan hati mereka dgn mrpk maslahat umum bagi kaum muslimin, sedangkan yg tdk beliau beri ialah krn mereka lebih baik di mata Beliau dan mereka ialah wali-wali Allah yg bertaqwa dan seutama-utama hamba Allah yg shalih setelah para Nabi dan Rasul-rasul.
Jika pemberian itu tdk dipertimbangkan untuk maslahat umum, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tdk akan memberi pada aghniya’, para pemimpin yg dita’ati dalam perundangan dan akan memberikan kpd Muhajirin dan Anshar yg lebih membutuhkan dan lebih utama.
Oleh sebab inilah orang-orang Khawarij mencela Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dikatakan kpd beliau oleh pelopor :” Wahai Muhammad, beruntuk adillah. Sesungguh engkau tdk berlaku adil “. dan perkataan :” Sesungguh pembagian ini tdk dimaksudkan untuk wajah Allah …..”. Mereka, meskipun banyak shaum (berpuasa), shalat, dan bacaan Al-Qur’annya, tetapi keluar dari As-Sunnah dan Al-Jama’ah.
Memang mereka dikenal sebagai kaum yg suka beribadah, wara’ dan zuhud, akan tetapi tanpa disertai ilmu, sehingga mereka memutuskan bahwa pemberian itu semesti tdk diberikan kecuali kpd orang-orang yg berhajat, bukan kpd para pemimpin yg dita’ati dan orang-orang kaya itu, jika di dorong untuk mencari keridhaan selain Allah -menurut persangkaan mereka-.
Inilah kebodohan mereka, krn sesungguh pemberian itu menurut kadar maslahah agama Allah. Jika pemberian itu akan semakin mengundang keta’atan kpd Allah dan semakin bermanfaat bagi agama-Nya, maka pemberian itu jauh lebih utama. Pemberian kpd orang-orang yg membutuhkan untuk menegakkan agama, menghinakan musuh-musuhnya, memenangkan dan meninggikan lebih agung daripada pemberian yg tdk demikian itu, walaupun yg kedua lebih membutuhkan”. [Lihat Majmu’ Fatawa : XXVIII/579-581, dgn sedikit diringkas].
Untuk itu hendaklah seseorang menggnkan bashirah, lebih memahami fiqh dakwah dan maksud-maksud syar’i, sehingga tdk akan berada dalam kerancuan dan kebingungan yg mengakibatkan akan terhempas, hilang dan berburuk sangka serta mudah mencela disertai dgn menegakkan kewajiban-kewajiban yg terpuji dan mulia.
[3]. BERLEBIHAN DALAM BERIBADAH.
Sifat ini telah ditunjukkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda :
“Arti : Akan muncul suatu kaum dari umatku yg membaca Al-Qur’an, yg mana bacaan kalian tdklah sebanding bacaan mereka sedikitpun, tdk pula shalat kalian sebanding dgn shalat mereka sedikitpun, dan tdk pula puasa kalian sebanding dgn puasa mereka sedikitpun”. [Muslim II/743-744 No. 1064].
Berlebihan dalam ibadah berupa puasa, shalat, dzikir, dan tilawah Al-Qur’an mrpk perkara yg masyhur di kalangan orang-orang Khawarij. Dalam Fathu Al-Bari, XII/283 disebutkan :”Mereka (Khawarij) dikenal sebagai qura’ (ahli membaca Al-Qur’an), krn besar kesungguhan mereka dalam tilawah dan ibadah, akan tetapi mereka suka menta’wil Al-Qur’an dgn ta’wil yg menyimpang dari maksud yg sebenarnya. Mereka lebih mengutamakan pendptnya, berlebih-lebihan dalam zuhud dan khusyu’ dan lain sebagainya”.
Ibnu Abbas juga telah mengisyaratkan pelampauan batas mereka ini ketika pergi untuk mendebat pendpt mereka. Beliau berkata :”Aku belum pernah menemui suatu kaum yg bersungguh-sungguh, dahi mereka luka krn sering sujud, tangan mereka seperti lutut unta, dan mereka mempunyai gamis yg murah, tersingsing, dan berminyak. Wajah mereka menunjukan kurang tidur krn banyak berjaga di malam hari”. [Lihat Tablis Iblis, halaman 91]. Pernyataan ini menunjukkan akan ketamakan mereka dalam berdzikir dgn usaha yg keras.
Berkata Ibnul Jauzi :”Ketika Ali Radhiyallahu ‘Anhu meninggal, dikeluarkanlah Ibnu Maljam untuk dibunuh. Abdullah bin Ja’far memotong kedua tangan dan kedua kakinya, tetapi ia tdk mengeluh dan tdk berbicara. Lalu dicelak kedua mata dgn paku panas, ia pun tdk mengeluh bahkan ia membaca :
“Arti : Bacalah dgn (menyebut) nama Rabb-mu yg menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah”. [Al-’Alaq : 1-2].
Hingga selesai, walaupun kedua mata meluluhkan air mata. Kemudian setelah mata diobati, ia akan di potong lidahnya, baru dia mengeluh. Ketika ditanyakan kpd :”Mengapa engkau mengeluh ?. “Ia menjawab ;”Aku tdk suka bila di dunia menjadi mayat dalam keadaan tdk berdzikir kpd Allah”. Dia ialah seorang yg ke hitam-hitaman dahi bekas dari sujud, semoga laknat Allah padanya”. [Tablis Iblis, hal. 94-95].
Mekipun kaum Khawarij rajin dalam beribadah, tetapi ibadah ini tdk bermanfa’at bagi mereka, dan mereka pun tdk dpt mengambil manfaat darinya. Mereka seolah-olah bagaikan jasad tanpa ruh, pohon tanpa buah, mengingat ahlaq mereka yg tdk terdidik dgn ibadah dan jiwa mereka tdk bersih krn serta hati tdk melembut. Padahal disyari’atkan ibadah ialah untuk itu. Berfirman yg Maha Tinggi :
“Arti : ….Dan tegakkanlah shalat. Sesungguh shalat itu mencegah dari (peruntukan-peruntukan) keji dan mungkar ……”. [Al-Ankabut : 45]
“Arti : ….Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”. [Al-Baqarah : 183]
Tidaklah orang-orang bodoh tersebut mendptkan bagian dari qiyamu al-lail- kecuali ha jaga saja, tdk dari puasa kecuali lapar saja, dan tdk pula dari tilawah- kecuali parau suaranya.
Senin, 31 Januari 2011
^"Akibat Dari SeLingkuh"^
Kenapa dalam Menjalani Sebuah Hubungan atau Berkeluarga.. Teridentik oLeh yang namanya Perselingkuhan..??
Pada saat kita diharuskan mengambil keputusan dalam kehidupan kita, setidaknya menurut saya ada dua hal yang perlu dijadikan hal yang paling mendasar dalam pengambilan keputusan.
- Bagaimana Nanti aja deh
- Nanti Bagaimana ya
Apa yang menjadi pilihan kita tidak ada yang salah, baik itu yang pertama ataupun yang kedua. Hidup di dunia ini penuh dengan pilihan. Dan sifatnya pun conditional. Artinya, tergantung kepada permasalahannya dan setiap permasalahan memiliki ciri khasnya masing-masing. So, lihat case per case ya terhadap permasalahannya….. dengan segala konsekuensinya. Ingat, tanggung sendiri risikonya. Play at your own risk.
Contoh :
Seorang pria, katakan A. Dia tergoda untuk berselingkuh dengan teman wanita di kantornya. Kebetulan si wanita pun juga membuka hatinya. Pucuk di cinta, ulam pun tiba. Duuuhh….ALAY & Lebay…..
Ada dua pilihan untuk sang pria. Pertama, langsung sikat alias jalani saja. Mana ada kucing menolak daging segar sih? Kapan lagi ada kesempatan seperti ini? Jarang-jarang lho begini.
Kedua, dia menyempatkan diri untuk berpikir dan merenung sebelum bertindak. Dosa menjadi konsekuensi pertamanya. Lalu bagaimana kalau rekan-rekan kantor yang lain mengetahui affairnya? Apa tidak jadi bahan gosip? Bagaimana kelangsungan karirnya? Belum lagi rongrongan dari istri di rumah. Pusing kan? Tanya Kenapa…..
Eh, tapi sepertinya contoh ini nggak cocok ya? Gimana sih yang nulis blog ini? Biasanya sih yang namanya perselingkuhan terjadi begitu saja, perlahan-lahan, dan tanpa disadari. Tahu-tahu, sudah terjadi saja. Seperti air yang mengalir, pelan tapi pasti, dan akhirnya terjadilah. Nanti dicarikan contoh lagi deh sambil ngetik yang lain.
Nah, maka dari itu. Contoh di atas tidak jauh dari yang namanya pilihan. Setelah tanda-tandanya, masak sih nggak terasa? pasti terasa. Masalahnya cuma satu. Ada kontrol terhadap diri kita tidak. Jangan bicara iman dahulu deh. Percuma kalau ngakunya beriman tapi tidak bisa menguasai diri dan perasaan kita.
Hidup ini cuma memang pilihan dengan segala konsekuensinya. Terkadang kita juga tidak tahu persis apakah yang kita pilih itu benar atau salah. Yang pasti cuma ada 3 :
- Manusia pasti akan meninggal
- Dunia pasti akan kiamat
- Masuk surga atau neraka
Hidup memang harus kita jalani dan biarkan seperti air mengalir. Begitu kata kebanyakan orang kan?
Pertanyaannya : Air itu mengalir ke mana?
Hukum alam (kayaknya kalau nggak salah yang gravitasi dan sifat air ya?) mengatakan bahwa air selalu mengalir dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah. Bersifat seperti air mengalir adalah baik lho. Contohnya, di sungai dari hulu ke hilir, ada batu yang menghalanginya ada nggak air yang yang hancur? Sifatnya fleksibel. Ini dari sudut pandang saya lho.
Lalu ke mana air mengalir? Pastilah ke bawah dong. Gimana sih….. Ada yang ke hilir danau yang bersih. Tapi ada juga yang masuk ke comberan yang bauk. Ada juga yang diminum manusia dan ujung-unjungnya ke septic tank juga. Mau pilih yang mana???...
Selingkuh memang tidak diinginkan oleh pasangan manapun. Tapi bagaimana bila sudah terlanjur selingkuh karena suatu hal, kemudian ingin memperbaiki hubungan kembali biar tetap utuh. Bagi yang sudah terlanjur selingkuh, bukan berarti hubungan tak bisa dipertahankan. Perlu usaha dan komitmen kuat untuk merekatkan kembali hubungan rumah tangga yang retak. Bukan sekadar memaafkan pengkhianatan yang terjadi, yang terpenting adalah komitmen untuk membangun kembali kepercayaan yang telah rusak. Kuncinya adalah bersikap jujur. Berikut ini ada beberapa tips untuk memperbaiki hubungan pascaperselingkuhan dengan harapan bisa memperbaiki hubungan sebagaimana mestinya.
1. Berhenti menjalin hubungan
Pasangan yang melakukan pengkhianatan harus memutuskan hubungan dan semua kontak dengan selingkuhannya. Hal ini demi menciptakan rasa "aman" bagi pasangan yang dikhianati. Harus bersedia mengacuhkan semua telepon dan pesan singkat dari selingkuhannya seperti ajakan kencan atau makan malam, curhatan di kotak surat elektronik seperti facebook, serta segala hal yang bisa kembali membuat terjebak dalam perselingkuhan.
Jika kebetulan bertemu mantan selingkuhan, harus berkomitmen untuk bersikap wajar dan menceritakannya kepada pasangan secara detail sebelum dipertanyakan. Termasuk ketika kekasih gelap masih sering menghubungi.
1. Berhenti menjalin hubungan
Pasangan yang melakukan pengkhianatan harus memutuskan hubungan dan semua kontak dengan selingkuhannya. Hal ini demi menciptakan rasa "aman" bagi pasangan yang dikhianati. Harus bersedia mengacuhkan semua telepon dan pesan singkat dari selingkuhannya seperti ajakan kencan atau makan malam, curhatan di kotak surat elektronik seperti facebook, serta segala hal yang bisa kembali membuat terjebak dalam perselingkuhan.
Jika kebetulan bertemu mantan selingkuhan, harus berkomitmen untuk bersikap wajar dan menceritakannya kepada pasangan secara detail sebelum dipertanyakan. Termasuk ketika kekasih gelap masih sering menghubungi.
2. Jawab semua pertanyaan pasangan
Hubungan akan semakin erat apabila yang berselingkuh menjawab semua pertanyaan pasangan yang dikhianati. Sebuah studi terhadap 1.083 pasangan suami-istri yang terbentur perselingkuhan mengaku lebih damai saat mendengar jawaban jujur dari pasangan. Peggy Vaughan, pengarang ‘The Monogamy Myth: A Personal Handbook for Recovering from Affairs’ mengatakan, memang awalnya sangat menyakitkan mendengar pengakuan selingkuh pasangan. Tapi, pada titik tertentu membicarakan hal tersebut merupakan proses penyembuhan.
Tujuan utama menjawab semua pertanyaan seputar perselingkuhan adalah untuk membangun kembali kepercayaan di antara pasangan. Jangan menyembunyikan apapun, karena apabila di kemudian hari hal ini terungkap, pasangan akan merasa tetap dikhianati.
3. Penyesalan
Hubungan biasanya bisa bertahan setelah perselingkuhan, apabila pasangan yang melakukan pengkhianatan menunjukkan penyesalan mendalam atas sikapnya. Pasangan yang berselingkuh harus menyadari penuh bahwa kelakuannya menyakiti hati pasangan.
4. Ikuti proses
Proses penyembuhan pasangan yang terbentur perselingkuhan tidak bisa dipercepat. Mereka yang berselingkuh harus sabar dan selalu siap menjawab pertanyaan seputar peristiwa "pahit" itu kapan saja. Cukup dengarkan tanpa rasa marah atau emosi berlebihan.
Hubungan akan semakin erat apabila yang berselingkuh menjawab semua pertanyaan pasangan yang dikhianati. Sebuah studi terhadap 1.083 pasangan suami-istri yang terbentur perselingkuhan mengaku lebih damai saat mendengar jawaban jujur dari pasangan. Peggy Vaughan, pengarang ‘The Monogamy Myth: A Personal Handbook for Recovering from Affairs’ mengatakan, memang awalnya sangat menyakitkan mendengar pengakuan selingkuh pasangan. Tapi, pada titik tertentu membicarakan hal tersebut merupakan proses penyembuhan.
Tujuan utama menjawab semua pertanyaan seputar perselingkuhan adalah untuk membangun kembali kepercayaan di antara pasangan. Jangan menyembunyikan apapun, karena apabila di kemudian hari hal ini terungkap, pasangan akan merasa tetap dikhianati.
3. Penyesalan
Hubungan biasanya bisa bertahan setelah perselingkuhan, apabila pasangan yang melakukan pengkhianatan menunjukkan penyesalan mendalam atas sikapnya. Pasangan yang berselingkuh harus menyadari penuh bahwa kelakuannya menyakiti hati pasangan.
4. Ikuti proses
Proses penyembuhan pasangan yang terbentur perselingkuhan tidak bisa dipercepat. Mereka yang berselingkuh harus sabar dan selalu siap menjawab pertanyaan seputar peristiwa "pahit" itu kapan saja. Cukup dengarkan tanpa rasa marah atau emosi berlebihan.
5. Bertanggungjawab
Menyalahkan pasangan atas perselingkuhan terjadi tidak akan memberi hasil apapun. Mereka yang berselingkuh harus benar-benar menunjukkan ketulusan dengan meminta maaf dan bersumpah tidak akan melakukan hal itu lagi. Namun ingat, sumpah tidak menjamin pasangan yang dikhianati mudah percaya. Dalam hatinya bisa tersimpan kekhawatiran bahwa hal yang sama bisa terulang. Satu-satunya cara adalah memperbarui komitmen rumah tangga.
6. Sabar
Mereka yang melakukan perselingkuhan harus sabar untuk mendapatkan kembali kepercayaan penuh dari pasangannya. Hormatilah proses untuk menyembuhkan luka hati. Jadi bersabarlah.
Dalam ayat ini Allah membagi penuduh wanita mu’minah berzina dalam dua kategori:
Syaikh Prof. DR. Shalih Fauzan Al-Fauzan Hafizhahullah (seorang anggota majelis ulama besar kerajaan saudi Arabia dan anggota Islamic Fiqh Academy (IFQ) Liga Muslim Dunia (Rabithoh al-’Alam al-Islami)) memaparkan: “Apabila keadaan istri tidak lurus agamanya, seperti meninggalkan shalat atau suka mengakhirkan pelaksanaannya di akhir waktu, sementara suami tidak mampu memperbaikinya, atau bila tidak memelihara kehormatannya, maka menurut pendapat yang rajih, suami dalam kondisi ini wajib untuk menceraikan istrinya.” (Al-Mulakhas Al-Fiqhi, 2/305)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Raahimahullahu Ta’ala berkata: “Jika istri berzina, maka suami tidak boleh tetap mempertahankannya dalam kondisi ini. Kalau tidak, ia menjadi dayyuuts (suami yang membiarkan maksiat terjadi di dalam rumah)”.
Adapun bila ia tidak mau bercerai dan mengaku masih mencintai suaminya, maka ini bohong. Bila ia cinta sama suaminya kenapa harus selingkuh. Wanita yang baik dan normal tidak akan berselingkuh dengan lelaki lain, sebab ia memiliki rasa malu yang jauh lebih besar dari lelaki. Bila ia telah selingkuh dengan lelaki lain maka rasa malu tersebut tentunya hilang dan kemungkinan berselingkuh lagi sangat besar sekali. Bagaimana tidak? Ia tidak puas dengan suaminya yang ada dan telah merasakan keindahan semu selingkuhnya dengan PIL (pria Idaman Lain). Wanita yang secara umum perasaannya lebih menguasai dari akal sehatnya tentu kemungkinan mengulanginya lagi itu sangat mungkin. Apalagi PIL nya tersebut masih membuka pintu baginya.
Karena itu nasehat saya kepada suami, ceraikan saja wanita tersebut dan berilah ia kemudahan untuk mendapatkan yang ia angan-angankan. Dengan bertawakkal kepada Allah dan mengikhlaskan perceraian tersebut kepada Allah maka Allah akan menggantikan dengan yang lebih daik darinya.
Mudah-mudahan jawaban ini memberikan pencerahan yang gamblang terhadap para suami yang tertimpa musibah memiliki istri tidak setia dan pelajaran bagi kita semua untuk berhati-hati dalam memilih pendamping kita. Lihat agamanya dan akhlaknya nanti kamu akan beruntung, seperti disabdakan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam.
Menyalahkan pasangan atas perselingkuhan terjadi tidak akan memberi hasil apapun. Mereka yang berselingkuh harus benar-benar menunjukkan ketulusan dengan meminta maaf dan bersumpah tidak akan melakukan hal itu lagi. Namun ingat, sumpah tidak menjamin pasangan yang dikhianati mudah percaya. Dalam hatinya bisa tersimpan kekhawatiran bahwa hal yang sama bisa terulang. Satu-satunya cara adalah memperbarui komitmen rumah tangga.
6. Sabar
Mereka yang melakukan perselingkuhan harus sabar untuk mendapatkan kembali kepercayaan penuh dari pasangannya. Hormatilah proses untuk menyembuhkan luka hati. Jadi bersabarlah.
وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً وَلا تَقْبَلُوا لَهُمْ شَهَادَةً أَبَدًا وَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ إِلا الَّذِينَ تَابُوا مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ وَأَصْلَحُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ وَالَّذِينَ يَرْمُونَ أَزْوَاجَهُمْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُمْ شُهَدَاءُ إِلا أَنْفُسُهُمْ فَشَهَادَةُ أَحَدِهِمْ أَرْبَعُ شَهَادَاتٍ بِاللَّهِ إِنَّهُ لَمِنَ الصَّادِقِينَ وَالْخَامِسَةُ أَنَّ لَعْنَةَ اللَّهِ عَلَيْهِ إِنْ كَانَ مِنَ الْكَاذِبِينَ وَيَدْرَأُ عَنْهَا الْعَذَابَ أَنْ تَشْهَدَ أَرْبَعَ شَهَادَاتٍ بِاللَّهِ إِنَّهُ لَمِنَ الْكَاذِبِينَ وَالْخَامِسَةَ أَنَّ غَضَبَ اللَّهِ عَلَيْهَا إِنْ كَانَ مِنَ الصَّادِقِينَ
“Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang-orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima keksaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik. Kecuali orang-orang yang bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang benar. Dan (sumpah) yang kelima: bahwa la’nat Allah atasnya, jika dia termasuk orang-orang yang berdusta. Isterinya itu dihindarkan dari hukuman oleh sumpahnya empat kali atas nama Allah sesungguhnya suaminya itu benar-benar termasuk orang-orang yang dusta, dan (sumpah) yang kelima: bahwa la’nat Allah atasnya jika suaminya itu termasuk orang-orang yang benar” (QS. An-Nuur/24: 4-9)Dalam ayat ini Allah membagi penuduh wanita mu’minah berzina dalam dua kategori:
- Orang yang menuduh bukan suaminya, maka wajib menghadirkan empat saksi yang melihat langsung kejadiannya atau wanita itu mangakuinya. Apabila terjadi demikian maka wanita itu dihukum dengan hukuman pezina. Namun bila tidak mangakui dan tidak dapat menghadirkkan empat saksi maka penuduh didera (cambuk) delapan puluh kali dan tidak diterima persaksiannya selama-lamanya kecuali bila bertaubat.
- Suami wanita tersebut, dalam hal ini sama dengan diatas, hanya saja bila wanita tidak mengakui dan ia tidak mampu menghadirkan saksi ia tidak dikenakan hukuman dera. Akan tetapi ia harus melakukan mula’anah (saling melaknat) seperti dalam ayat diatas.
Syaikh Prof. DR. Shalih Fauzan Al-Fauzan Hafizhahullah (seorang anggota majelis ulama besar kerajaan saudi Arabia dan anggota Islamic Fiqh Academy (IFQ) Liga Muslim Dunia (Rabithoh al-’Alam al-Islami)) memaparkan: “Apabila keadaan istri tidak lurus agamanya, seperti meninggalkan shalat atau suka mengakhirkan pelaksanaannya di akhir waktu, sementara suami tidak mampu memperbaikinya, atau bila tidak memelihara kehormatannya, maka menurut pendapat yang rajih, suami dalam kondisi ini wajib untuk menceraikan istrinya.” (Al-Mulakhas Al-Fiqhi, 2/305)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Raahimahullahu Ta’ala berkata: “Jika istri berzina, maka suami tidak boleh tetap mempertahankannya dalam kondisi ini. Kalau tidak, ia menjadi dayyuuts (suami yang membiarkan maksiat terjadi di dalam rumah)”.
Adapun bila ia tidak mau bercerai dan mengaku masih mencintai suaminya, maka ini bohong. Bila ia cinta sama suaminya kenapa harus selingkuh. Wanita yang baik dan normal tidak akan berselingkuh dengan lelaki lain, sebab ia memiliki rasa malu yang jauh lebih besar dari lelaki. Bila ia telah selingkuh dengan lelaki lain maka rasa malu tersebut tentunya hilang dan kemungkinan berselingkuh lagi sangat besar sekali. Bagaimana tidak? Ia tidak puas dengan suaminya yang ada dan telah merasakan keindahan semu selingkuhnya dengan PIL (pria Idaman Lain). Wanita yang secara umum perasaannya lebih menguasai dari akal sehatnya tentu kemungkinan mengulanginya lagi itu sangat mungkin. Apalagi PIL nya tersebut masih membuka pintu baginya.
Karena itu nasehat saya kepada suami, ceraikan saja wanita tersebut dan berilah ia kemudahan untuk mendapatkan yang ia angan-angankan. Dengan bertawakkal kepada Allah dan mengikhlaskan perceraian tersebut kepada Allah maka Allah akan menggantikan dengan yang lebih daik darinya.
Mudah-mudahan jawaban ini memberikan pencerahan yang gamblang terhadap para suami yang tertimpa musibah memiliki istri tidak setia dan pelajaran bagi kita semua untuk berhati-hati dalam memilih pendamping kita. Lihat agamanya dan akhlaknya nanti kamu akan beruntung, seperti disabdakan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam.
Langganan:
Postingan (Atom)


